KEBOHONGAN AKAN MENJADI KEBENARAN JIKA DISAMPAIKAN SECARA TERUS MENERUS


Bila mata dan telinga sudah tak bisa lagi dibohongi oleh kata-kata, maka dia masih bisa dikelabui oleh data. Enggak percaya?
Anda mungkin sering mendengar iklan yang berbunyi seperti ini: "9 dari 10 wanita di Indonesia menggunakan kosmetik lalala". Tujuan dari iklan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meyakinkan masyarakat agar membeli produk mereka. Namun, kadangkala mereka hanya melakukan manipulasi statistik sehingga mendapatkan kesimpulan yang memberikan kesan positif untuk produk mereka tersebut. Cara memanipulasinya sangat mudah, kok. Cukup dengan mengambil sampel yang bias atau berbohong dengan nilai rata-rata.
Bagaimana caranya?
Misalnya begini: mereka melakukan riset kepada 100 orang wanita dengan menanyakan produk kosmetik apa yang sedang mereka gunakan. Namun, 100 orang wanita yang dijadikan sampel ini adalah pelanggan dari toko kosmetik A tersebut. Alhasil, 90 dari 100 wanita yang mereka tanyakan akan menjawab, "kami menggunakan kosmetik A". Dengan begitu, mereka menyimpulkan bahwa 9 dari 10 wanita di Indonesia menggunakan kosmetik A — huh, kesimpulan yang sangat menyesatkan sekali, bukan? Inilah yang disebut dengan menggeneralisir sesuatu yang bahkan tidak mewakili populasi secara keseluruhan. Di sini, sampel yang mereka ambil sangatlah bias.
(Gambar. Can we trust the statistics?)
Ada juga kasus di mana sampel yang diambil sudah memenuhi kaidah di dalam statistik, namun tetap dimanipulasi. Mudah saja, contohnya begini: bagian marketing dari kosmetik A memberikan produk mereka selama 3 bulan secara gratis kepada seluruh anggota Perhimpunan Dokter Anti Penuaan, Wellness, Estetik & Regeneratif Indonesia (Perdaweri). Setelah itu, mereka memberikan kuisioner kepada seluruh anggota dari Perdaweri tersebut, dan menyelipkan pertanyaan, "apa kosmetik yang Anda gunakan dalam 3 bulan terakhir?". Coba tebak, apa kesimpulan dari riset yang mereka lakukan? Yup! Mereka mendapatkan hasil bahwa hampir 100% anggota Perdaweri menggunakan kosmetik A dalam waktu tiga bulan terakhir. Selanjutnya mereka hanya perlu menyusun iklan untuk menggiring opini seperti ini:
Kosmetik A sudah terbukti secara klinis dan digunakan oleh hampir seluruh anggota himpunan dokter kecantikan di Indonesia. Jadilah seperti mereka yang memiliki kulit putih, cerah, merona dan berseri secara alami~
See? Datanya sudah valid dan bahkan mereka tidak mengambil sampel, melainkan seluruh populasi di Perdaweri. Tapi tetap saja riset yang mereka lakukan hanyalah suatu rekayasa untuk membohongi publik.
Berbohong dengan menggunakan statistik bukanlah hal yang baru, siapapun bisa melakukannya dengan tujuan untuk penggiringan opini, pemasaran, atau apapun yang menguntungkan mereka. Tidak hanya di dunia marketing, di dunia politik pun, membohongi publik dengan menggunakan statistik termasuk ke dalam strategi memenangkan pasangan calon yang diusung. Jadi jangan heran bila pada pemilihan kepala daerah, atau yang lebih tinggi dari itu, banyak yang saling mengklaim kemenangan dari masing-masing pihak, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu dari mereka (atau mereka semua) melakukan kebohongan. Alasannya? Karena kebohongan adalah instrumen dari propaganda. Kebohongan dapat digunakan untuk menguatkan keabsahan informasi yang dibagikan sehingga menggiring opini publik bahwa paslon merekalah yang seharusnya menang, dan jika ternyata paslon lain yang menang, maka mereka mestilah berbuat curang. Seperti apa yang Joshep Geobbels katakan, kebohongan yang disampaikan berulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran — dan sungguh, statistika memainkan peranan penting dalam propaganda tersebut!
(Gambar. Kebohongan politikus)
Kita kemudian akan menyadari bahwa mempelajari statistika ternyata sangatlah penting, setidaknya, bila mata atau telinga kita mendengar kalimat, "rata-rata …""kebanyakan dari mereka …""7 dari 10 orang di Indonesia …", atau yang senada dengan itu, maka tidak langsung memercayainya, namun lebih mencoba untuk mengkritisi dan mempertanyakan:
Berapa jumlah sampel yang diambil dari penelitian tersebut? Apa metode pengambilan sampel yang digunakan? Berapa margin of error-nya? dan lain sebagainya.
~ Jangan selalu percaya pada apa yang dilihat oleh mata dan pada apa yang didengar oleh telinga. Yang palsu terlihat nyata, dan yang nampak nyata penuh dengan kepalsuan ~

👳👳

Comments

Popular posts from this blog

JANGAN MENJUAL PONSEL ANDA KEPADA SIAPAPUN

Pengelolaan keuangan desa

APA MAKSUT e.g dan i.e YANG SERING DIJUMPAI PADA ARTIKEL JURNAL